Museum Penerangan di Hati Jurnalis Asal Afrika - Pasifik

Bagaimana rasanya menjadi jurnalis yang melancong ke luar negeri membawa nama bangsa dan profesinya, untuk mempelajari kesuksesan bangsa lain? Senang, kagum, dan penuh semangat nasionalisme. Itulah kira-kira potret perasaan 15 jurnalis dari Afrika dan Asia Pasifik yang datang berkunjung ke Museum Penerangan (Muspen) pada hari Selasa, 9 Juli 2019 kemarin.

Program apik bertajuk Journalist Visit Program 2019 yang merupakan kolaborasi antara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) dan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) ini memang telah membuat warga Negara Pantai Gading, Madagaskar, Mozambik, Senegal, Uganda Fiji, Kiribati, Nauru, Papua Nugini, Kepulauan Solomon terperangah. Baru kemarin (Senin, 8/7) para Jurnalis Afrika-Pasifik disambut hangat oleh Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara di Hotel Borobudur Jakarta, dan di hari kedua, mereka langsung mengunjungi Muspen di kawasan wisata Taman Mini Indonesia Indah (TMII), sebelum lepas landas ke kota Yogyakarta.

Ada cerita seru ketika para Jurnalis tiba di pintu Muspen serta disambut dengan minuman khas Indonesia, Es Cendol. Mereka penasaran dengan apa benda hijau yang mereka seruput dari gelas. Agar tak salah menjawab, kru Muspen yang mendapat pertanyaan serta-merta mengajak si penanya untuk membaca bersama caption yang tertempel di pikulan penjual Es Cendol.

Cendol is an iced sweet dessert that contains droplets of green rice flour jelly, coconut milk and palm sugar syrup. (Cendol adalah minuman manis dan dingin dengan bulatan kecil yang terbuat tepung beras berwarna hijau, dicampur dengan santan dan gula merah cair.)

Dua jurnalis Fiji, Inoke Robanu (Fiji Sun Newspaper) dan Ilaijia Votovuto Ravuwai (Fiji Sun Online), langsung memuji betapa enaknya minuman tersebut, merasa cocok menikmati minuman dingin di siang yang terik, juga mengomentari rasa manis yang pas di lidah.

Sementara beberapa kru Muspen menemani tamu yang sedang menikmati cendol,  beberapa kru lainnya langsung sigap mengajak beberapa jurnalis ke lobby Muspen dan menawarkan kue tradisional di atas tampah berhias daun pisang yang dirangkai dadakan khusus untuk menyambut para Jurnalis Afrika-Pasifik secara tradisional.

Para jurnalis kemudian menerima kenang-kenangan dari Muspen dan beramah-tamah dengan Kepala Muspen (Abdullah) dan perwakilan Kemenkominfo (Hendra) di lobi utama lantai 1 Muspen, yang dikenal dengan sebutan Introductary Room.

Setelah memperkenalkan Muspen sebagai museum-nya Kemenkominfo, Kepala Muspen menyampaikan apa saja koleksi dan isi storyline yang terdapat di Muspen dan merupakan bagian dari proses revitalisasi. “As you can see, we are in the process of revitalization, to be a more inclusive museum. Later I invite you to visit the 2nd floor, where all the interactive tools will be launched by the end of the year”. Kepala Muspen menutup sambutan singkatnya dengan memuji bahwa profesi jurnalis adalah bagian dari komunikasi dan layanan informasi, serta mengundang para jurnalis Afrika-Pasifik untuk dapat menjadi bagian dari Muspen. Para jurnalis diajak untuk meneriakkan “Museum di Hatiku” sambil meletakkan tangan kanan di dada kiri.

Para jurnalis memulai kunjungannya dengan mengamati storyline perjalanan komunikasi dan layanan informasi Indonesia. Kru Muspen terlihat langsung mengambil posisinya masing-masing sebagai pemandu, pengambil dokumantasi foto dan video, juga sebagai penerjemah. Sesuai urutan alur kunjungan, para jurnalis kemudian berkeliling dari area tematik radio, televisi, studio Si Unyil, Studio TVRI, tematik Departemen Penerangan, Studio RRI, Hall of Fame Menteri, diorama, dan mesin cetak. Secara umum, sambil menjelaskan tentang setiap koleksi, kru Muspen selalu menambahkan bahwa bahwa pemanfaatan media komunikasi secara tepat sangat besar manfaatnya untuk kemerdekaan Indonesia.

Setelah membaca caption 17 patung torso tokoh-tokoh penerangan di ruang tengah Muspen, jurnalis cetak Umaru Muhammadi asal Uganda (New Vision Newspaper) menyatakan ap[resiasinya karena pemerintah Indonesia mengahrgai insan pers. Ia berharap suatu saat negaranya dapat melakukan hal serupa, “Saya mau dibuatkan patung seperti itu oleh Negara saya”.

 Selesai memandang foto para Menteri, seorang jurnalis wanita asal Papua Nugini, Lucy Uwanai Kopana, yang bekerja untuk stasiun televisi EMTV berkomentar “Betapa hebat negara kalian dapat berkembang sebegitu pesatnya hanya dalam waktu 70 tahun”. Kru Muspen menanggapi dan menjelaskan bahwa pengorbanan para pahlawan nasional selalu menjadi pendorong semangat anak bangsa mencari dan mengembangkan ilmu di bidangnya masing-masing, untuk membangun bangsa.

Sesi selfie di Ruang Kontemplasi Muspen di lantai 2 menjadi ajang kebersamaan setelah puas mengamati koleksi lantai 1. Di tengah ruang kontemplasi luas berbentuk kubah dengan dinding melingkar yang ditempel dengan relief putih,  para jurnalis, Kru Muspen, juga perwakilan Kemenkominfo dan Kemlu membentuk lingkaran sambil melihat ke arah telepon pintar di lantai yang dipasang dalam mode selfie. Ketika hasil foto diperlihatkan, para jurnalis berdecak kagum memandang latar belakang foto yang adalah langit-langit Muspen. Langit-langit berupa kubah ini memang membawa suasana megah dengan kaca patri bergambar Anantakupa (api nan tak kunjung padam), peta Nusantara, dan baju adat Indonesia.

Sembari menjelaskan tentang relief sejarah komunikasi di Indonesia, Kepala Muspen  menyerahkan buku profil Muspen kepada Novan Ivanhoe Pejabat Fungsional Diplomat Madya Kemlu, dan mengundang semua yang hadir agar dapat berkunjung kembali, melihat hasil revitalisasi lantai 2 Muspen. Ravonjarisoanarivololona asal Madagaskar menyambut baik usul itu dan berharap dapat berkunjung kembali di akhir tahun 2019 ke Muspen.

Sebelum meninggalkan Muspen dengan bis, seluruh tim yang terlibat berkumpul dan berfoto bersama, dan para jurnalis dengan mudah mengulang ungkapan salam museum sambil meletakkan tangan di dada: “Museum di Hatiku!” Terima kasih atas kunjungannya, para jurnalis Afrika-Pasifik! Datang kembali di lain waktu dan tetap simpan Museum Penerangan di hati! (FM)