Perubahan Sosial dan Kebudayaan

Setiap masyarakat pasti mengalami perubahan. Ada yang lambat dan ada juga perubahannya cepat. Perubahan dari masyarakat dapat mengenai:

  1. Nilai-nilai sosial
  2. Norma-norma sosial
  3. Pola perilaku/perikelakuan
  4. Organisasi
  5. Susunan lembaga kemasyarakataan
  6. Lapisan lapisan dari masyarakat
  7. Kekuasaan dan wewenang
  8. Interaksi sosial

Para sarjana sosilogi pernah melakukan klasifikasi terhadap perubahan masyarakat, yaitu:

  • Masyarakat statis : sedikit sekali perubahan dan berjalan lambat.
  • Masyarakat dinamis: masyarakat yang mengalami perubahan dengan sangat cepat.

Perubahan belum tentu suatu kemajuan tapi bisa juga suatu kemunduran pada bidang tertentu. Pada saat ini krn adanya kemajuan komunikasi demikian cepat maka sutu perubahan dari negara lain sangat cepat menjalar dan cepat pula mempengaruhi negara lain.

Ada beberapa ahli sosiologi yang memberikan definisi perubahan sosial, antara lain.

  • J.L Gillin Dan J.P Gillin

Perubahan sosial adalah suatu variasi dari cara hidup yang diterima, akibat adanya perubahan kondisi geografis, kebudayaan material, kompoisisi penduduk, ideologi, maupun karena difusi dan penemuan baru dalam masyarakat.


  • Kingsley Davis 

Mengartikan perubahan sosial sebagai perubahan-perubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi masyarakat. Misalnya, timbulnya pengorganisasian buruh dalam masyarakat kapitalis telah menyebabkan perubahan-perubahan dalam hubungan antara buruh dengan majikan dan seterusnya menyebabkan perubahan-perubahan dalam organisasi ekonomi dan politik.


  • William F Ogburn 

Mengemukakan ruang lingkup perubahan-perubahan sosial meliputi unsur-unsur kebudayaan baik yang material maupun yang immaterial, yang ditekankan adalah pengaruh besar unsur-unsur kebudayaan material terhadap unsur-unsur immaterial.


  • Selo Soemardjan

Perubahan sosial adalah perubahan-perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat yang mempengaruhi sistem sosialnya, termasuk di dalamnya nilai-nilai, sikap dan pola perilaku di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat.


  • Samuel Koening 

Perubahan sosial menunjuk pada modifikasi-modifikasi yang yang terjadi dalam pola-pola kehidupan manusia yang terjadi karena sebab-sebab intern maupun sebab-sebab ekstern.


  • Mac Iver

Perubahan sosial adalah perubahan-perubahan dalam hubungan sosial atau sebagai perubahan terhadap keseimbangan hubungan sosial.

Berdasarkan definisi-definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa perubahan sosial adalah perubahan yang terjadi dalam struktur sosial dan lembaga sosial masyarakat. Perubahan sosial meliputi perubahan dalam berbagai hal, seperti perubahan teknologi, perilaku, sistem sosial dan norma. Perubahan tersebut mempengaruhi individu dalam masyarakat tertentu. 

Perubahan sosial budaya yang terjadi di dalam masyarakat sangat beragam. Secara umum, bentuk-bentuk perubahan sosial budaya dapat dibedakan sebagai berikut.

a. Berdasarkan Kecepatan Perubahan

1) Evolusi

Evolusi adalah perubahan yang sangat lambat. Evolusi memerlukan waktu yang lama, di mana terdapat suatu rentetan perubahan-perubahan kecil yang saling mengikuti denga lambat. Pada evolusi, perubahan-perubahan terjadi dengan sendirinya, tanpa suatu rencana ataupun suatu kehendak tertentu. Perubahan-perubahan tersebut terjadi oleh karena usaha-usaha masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan keperluan-keperluan, keadaan-keadaan dan kondisi-kondisi baru, yang timbul sejalan dengan pertumbuhan masyarakat. Rentetan perubahan-perubahan tersebut, tidak perlu sejalan dengan rentetan peristiwa-peristiwa di dalam sejarah masyarakat yang bersangkutan.

2) Revolusi

Revolusi adalah perubahan yang sangat cepat. Revolusi bersifat radikal dengan menghancurkan seluruh tatanan lama untuk digantikan dengan tatanan baru. Di dalam prosesnya. revolusi seringkali disertai dengan kekerasan serta jumlah korban yang besar. Sejarah modern mencatat dan mengambil rujukan revolusi mula-mula pada Revolusi Perancis, kemudian Revolusi Amerika. Namun, Revolusi Amerika lebih merupakan sebuah pemberontakan untuk mendapatkan kemerdekaan nasional, ketimbang sebuah revolusi masyarakat yang bersifat domestik seperti pada Revolusi Perancis. Begitu juga dengan revolusi pada kasus perang kemerdekaan Vietnam dan Indonesia. Secara sosiologis, agar suatu revolusi dapat terjadi, harus dipenuhi syarat-syarat tertentu, antara lain seperti berikut.

a) Harus ada keinginan umum untuk mengadakan suatu perubahan. Masyarakat harus memiliki perasaan tidak puas terhadap keadaan yang ada, dan tumbuh keinginan untuk meraih perbaikan dengan perubahan keadaan tersebut.

b) Harus ada seorang pemimpin atau sekelompok orang yang dianggap mampu memimpin masyarakat tersebut.

c) Pemimpin tersebut dapat menampung keinginan-keinginan masyarakat, kemudian merumuskan serta menegaskan rasa tidak puas itu untuk dijadikan program dan arah bagi geraknya masyarakat.

d) Pemimpin tersebut harus dapat menunjukkan suatu tujuan pada masyarakat, artinya tujuan tersebut sifatnya konkret dan dapat dilihat oleh masyarakat. Di samping itu, diperlukan juga suatu tujuan yang abstrak, misalnya, perumusan sesuatu ideologi tertentu. 

e) Harus ada “momentum” untuk melaksanakan revolusi, yaitu waktu yang tepat untuk memulai gerakan revolusi. Apabila “momentum” yang dipilih keliru, maka revolusi dapat gagal. Proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 merupakan contoh suatu revolusi yang “momentum”nya sangat tepat. Pada waktu itu, perasaan tidak puas di kalangan bangsa Indonesia telah mencapai puncaknya dan ada pemimpin-pemimpin yang mampu menampung keinginan-keinginan masyarakat sekaligus merumuskan tujuannya. Pada saat itu bertepatan dengan kekalahan Jepang melawan Sekutu.

b. Berdasarkan Besar Kecilnya Pengaruh yang Ditimbulkan

1) Perubahan yang Kecil Pengaruhnya

Perubahan ini berkaitan dengan perubahan pada unsur-unsur struktur sosial yang tidak membawa pengaruh langsung atau pengaruh yang berarti bagi masyarakat. Suatu perubahan dalam mode pakaian, misalnya, tak akan membawa pengaruh yang berarti bagi masyarakat secara keseluruhan karena tidak mengakibatkan perubahan dalam lembaga-lembaga kemasyarakatannya.

2) Perubahan-Perubahan yang Besar pengaruhnya

Perubahan ini membawa pengaruh langsung atau menimbulkan pengaruh yang berarti bagi masyarakat. Sebagai contoh, suatu proses industrialisasi pada masyarakat agraris, merupakan perubahan yang akan membawa pengaruh besar pada masyarakat. Berbagai lembaga-lembaga kemasyarakatan akan terpengaruh olehnya seperti dalam hal hubungan kerja, sistem kepemilikan tanah, hubungan-hubungan kekeluargaan, stratifikasi masyarakat, dan seterusnya.

c. Berdasarkan Ada Tidaknya Perencanaan Perubahan

1) Perubahan yang Dikehendaki (Intended-Change) atau Perubahan yang Direncanakan (Planned-Change) Perubahan yang dikehendaki sudah diperkirakan atau direncanakan terlebih dahulu oleh pihak-pihak yang hendak mengadakan perubahan di dalam masyarakat. Pihak-pihak yang menghendaki perubahan dinamakan agent of change, yaitu seseorang atau sekelompok orang yang mendapat kepercayaan dari masyarakat sebagai pemimpin satu atau lebih lembaga-lembaga kemasyarakatan. Agent of change memimpin masyarakat dalam mengubah sistem sosial. Dalam melaksanakan hal itu agent of changelangsung tersangkut dalam tekanan-tekanan untuk mengadakan perubahan, bahkan mungkin menyebabkan perubahan-perubahan pula pada lembaga-lembaga kemasyarakatan lainnya. Suatu perubahan yang dikehendaki atau yang direncanakan, selalu berada di bawah pengendalian serta pengawasan agent of changetersebut. Cara-cara untuk mempengaruhi masyarakat dengan sistem yang teratur dan direncanakan terlebih dahulu dinamakan social engineeringatau sering pula dinamakan social planning.

2) Perubahan-Perubahan Sosial yang Tidak Dikehendaki (Unintended-Change) atau Perubahan yang Tidak Direncanakan (Unplanned-Change) Perubahan ini terjadi tanpa dikehendaki serta berlangsung di luar jangkauan pengawasan masyarakat dan dapat menimbulkan akibat-akibat sosial yang tidak diharapkan oleh masyarakat. Seringkali terjadi perubahan yang dikehendaki bekerja sama dengan perubahan yang tidak dikehendaki dan kedua proses tersebut saling mempengaruhi.

Perubahan kebudayaan yang terjadi dalam suatu bangsa tidak luput dari faktor-faktor yang mempengaruhi. Menurut Soerjono Soekanto faktor-faktor tersebut terbagi menjadi 2, yaitu faktor intern dan faktor ekstern.

1. Perubahan dari Dalam Masyarakat (intern)

       a. Perubahan Penduduk

         Perubahan yang dimaksud adalah perubahan dikarenakan bertambah dan berkurangnya jumlah penduduk. Pertambahan Penduduk akan menyebabkan perubahan pada tempat tinggal. Tempat tinggal yang semula terpusat pada lingkungan keraba akan berubah atau terpancar karena faktor pekerjaan. Berkurangnya penduduk juga akan menyebabkan perubahan sosial budaya. Contoh Perubahan penduduk adalah program transmigrasi dan urbanisasi.

b. Pemberontakan atau Revolusi

Pemberontakan akan menyebabkan perubahan sosial budaya, contohnya pemberontakan G 30 S/PKI. Pemberontakan G 30 S/PKI pada tahun 1965 membawa perubahan terutama dalam sistem politik Indonesia sehingga dilarangnya ajaran komunis Indonesia. Pelarangan ajaran komunis di Indonesia ini disebabkan karena tidak sesuai dengan nilai - nilai pancasila yang menjadikan berbangsa, dan bernegara bagi bangsa Indonesia.

         c. Peranan Nilai yang diubah

             Perubahan juga dapat disebabkan berubahnya peranan nilai di masyarakat, misalnya, sosialisasi program keluarga berencana mampu menghambat pertambahan penduduk. Contohnya sebelum ada program keluarga berencana dari pemerintah, masyarakat yang sudah berkeluarga cenderung menginginkan  mempunyai anak banyak, namun setelah ada Sosialisasi program keluarga berencana masyarakat tumbuh kesadaran untuk membatasi kelahiran anak demi masa depan dan kesejahteraan anak itu sendiri.

     d. Peran Tokoh Kharismatik

            Tokoh Kharismatik adalah tokoh yang disegani, dihormati, dan diteladani olehmasyarakat. Peran tokoh kharismatik membawai pengaruh dalam perubahan kehidupan masyarakat. Misalnya, Soekarno sebagai presiden RI memiliki kharismatik dihadapan rakyat karena keahliannya dapat berpidato dengan baik.

    e. Penemuan Baru

                 Adanya penemuan baru dalam kehidupan masyarakat baik itu berupa ilmu pengetahuan maupun teknologi memengaruhi dan membawai perubahan dalam masyarakat itu. Penemuan mobil misalnya. Penemuan tersebut akan membawa perubahan sosial dan kebudayaan masyarakat. Dalam masyarakat akan terbentuk status sosial berdasarkan harta ( mobil ) yang dimiliki. Orang yang tidak memiliki mobil bisa dianggap status sosialnya lebih rendah dibandingkan orang yang memilikinya. Selanjutnya, orang yang memiliki sebuah mobil bisa dianggap lebih rendah status sosialnya dibandingkan orang yang memiliki lebih dari satu mobil.


2. Perubahan dari Luar Masyarakat (Ekstrn)


    Perubahan sosial budaya juga dapat terjadi karena unsur dai luar masyarakat seperti faktor geografis, kebudayaan, dan politik. Pengaruh luar masyarakat merupakan hal yang wajar dalam perubahan sosial budaya di masyarakat. Pengaruh dari luar masyarakat tersebut adalah sebagai berikut:



a) Pengaruh Lingkungan Alam

    Pengaruh lingkungan alam sangat berpengaruh dalam terjadinya perubahan sosial budaya. Misalny, tanah yang subur dapat berguna untuk lahan pertanian sehingga masyarakat di daerah tersebut memiliki usaha sebagai petani. Kebudayaan di tanah subur pun tidak lepas dari kehidupan sosial sebagai petani sehingga kebudayaan tetap berhubungan dengan bidang pertanian.

b) Kebudayaan Masyarakat Lain

    Kontak Kebudayan antara masyarakat mempunyai dampak yang positif dan negatif. Contohnya, kontak kebudayaan bangsa Indonesia dengan bangsa Barat. Pengaruh positif berupa transfer ilmu pengetahuan dan teknologi, sedangkan pengaruh negatif berupa pola hidup kebarat - baratan ( westernis ) sekelompok anak muda.

c) Peperangan

Peperangan akan menyebabkan pengaruh negatif terhadap sebuah aspek kehidupan masyarakat. Misalnya, perang Irak yang membawa derita dan trauma berkepanjangan bagi rakyat Irak.

Selain disebabkan oleh beberapa hal di atas, suatu perubahan sosial budaya terjadi karena adanya faktor yang menyebabkannya. Faktor yang menyebabkan perubahan sosial budaya terdiri atas faktor pendorong dan penghambat.


1. Faktor Pendorong Perubahan Sosial Budaya


a) Timbunan Kebudayaan dan Penemuan Baru

       Kebudayaan dalam masyarakat selalu mengalami penimbunan atau menumpukan, yaitu budaya masyarakat semakin beragam dan bertambah. Bertambah dan beragamanya budaya ini umumnya disebabkan oleh adanya penemuan baru dalam masyarakat.

b) Perubahan Jumlah Penduduk

    Bertambah dan berkurangnya jumlah penduduk suatu daerah mengakibatkan perubahan struktur masyarakat terutama lembaga kemasyarakatannya.

c) Pertentangan atau Konflik

      Pertentangan yang terjadi dalam maysarakat karena kemajemukan menyebabkan perubahan sosial. Dalam masyarakat yang heterogen, sifat individualitas masih lekat sehingga satu sama lainnya tidak memiliki hubungan yang dekat. Padahal sumber kebutuhan semakin terbatas. Persaingan untuk memperebutkan seumber kebutuhan mendorong masyarakat untuk berkreasi menciptakan alternatif pemenuhan sumber kebutuhan.

d) Terjadinya Pemberontakan atau Revolusi

       Perubahan Sosial Budaya dapat bersumber dari luar masyarakat itu sendiri diantaranya sebab yang berasal dari lingkungan alam fisik di sekitar manusia, seperti Bencana alam dan peperangan.

e) Sistem Terbuka Lapisan Masyarakat

         Masyarakat dengan sistem lapisan yang terbuka cenderung lebih mudah mengalami perubahan daripada dengan sistem lapisan tertutup. Masyarakat akan cenderung memberikan kesempatan berkarya bagi manusia - manusia yang potensial

f) Sikap Menghargai Hasil Karya Seseorang dan Keinginan Untuk Maju

     Sikap masyarakat yang mau menghargai hasil karya orang lain akan membuat orang terdorong untuk melakukan penelitian. Dengan demikian akan menghasilkan sebuah karya yang berguna bagi masyarakat.

g) Sistem Pendidikan Formal yang maju

     Kualitas pendidikan yang tinggi mampu mengubah pola pikir. Masyarakat yang memiliki pendidikan tinggi akan lebih rasional dalam berpikir dan bertindak

h) Orientasi ke Masa Depan

    Keinginan untuk memperoleh masa depan yang lebih baik akan mendorong perubahan sosial budaya masyarakat

i) Akulurasi

   Alkulturasi merupakan pertemuan dua kebudayaan dari bangsa yang berbeda dan saling memengaruhi. Proses akulturasi berlangsung lama dan terus menerus. Proses ini berakibat pada perpaduan kebudayaan pola budaya semua akan berubah

j) Asimilasi

Asimilasi adalah perpaduan dua kebudayaan yang berbeda secara berangsur angsur berkembang sehingga memunculkan budaya baru.


Dampak Perubahan Sosial dalam Masyarakat


Perubahan sosial adalah proses sosial yang berlangsung secara terus-menerus dalam kehidupan masyarakat, berkaitan dengan pergeseran fungsi sistem dan struktur sosial sehingga mengubah pola perilaku anggota masyarakat.


1. Dampak Positif


Menunjukkan bahwa perubahan sosial memberikan pengaruh kemajuan dalam kehidupan masyarakat.

Adapun dampak positif perubahan sosial sebagai berikut :

a. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi

Perkembangan iptek dapat mengubah nilai-nilai lama menjadi nilai-nilai baru yang mendorong berbagai inovasi yang dapat memudahkan kehidupan masyarakat menuju perubahan sosial kearah modernisasi .

b. Tercipta lapangan kerja baru

Dapat mendorong industrialisasi dan perkembangan perusahaan multinasional. Dengan pengembangan perusahaan secara global dan pembukaan industri kecil, tersedia banyak lapangan pekerjaan sehingga mampu menyerap tenaga kerja secara maksimal.

c. Tercipta tenaga kerja profesional

untuk mendukung persaingan industri diperlukan tenaga kerja yang memiliki kecakapan, keterampilan, keahlian, dan profesionalisme yang tinggi.

d. Nilai dan norma baru terbentuk

Nilai merupakan sesuatu yang baik, penting, dihargai dan norma merupakan aturan yang mengikat nilai.

e. Efektivitas dan efisiensi kerja meningkat

Efektivitas dan efisiensi kerja selalu berkaitan dengan penggunaan alat produksi yang dapat menghasilkan produk lebih cepat, lebih banyak, dan tepat sasaran.


2. Dampak Negatif


Menunjukkan kerugian yang di alami oleh masyarakat, kerugian tersebut berupa materiel maupun non materiel.

Adapun dampak negatif perubahan sosial sebagai berikut :

a. Terjadi disintegrasi sosial

Disintegrasi terjadi karena adanya revolusi, kesenjangan sosial, perbedaan kepentingan yang dapat mendorong perpecahan dalam masyarakat.

b. Terjadi pergolakan daerah

Pergolakan daerah dapat muncul akibat :

- kesenjangan ekonomi

- tidak memperhatikan tatanan hidup

- mengabaikan nilai dan norma

- perbedaan agama, ras, suku bangsa dan politik.

c. Kenakalan remaja

Muncul akibat pengaruh perubahan sosial, nilai-nilai kebebasan budaya barat diadopsi tanpa menyesuaikan kondisi kebudayaan sendiri.

d. Terjadi kerusakan lingkungan

e. Eksistensi adat istiadat berkurang

nilai adat istiadat semakin ditinggalkan oleh masyarakat karena dianggap tidak sesuai dengan perkembangan zaman, dan digantikan dengan nilai kebudayaan moderen.

f. Lembaga sosial tidak berfungsi secara optimal

menyalah gunakan kedudukn dan wewenang.

g. Muncul paham duniawi

- Konsumerisme, paham / idiologi yang menjadikan seseorang mengonsumsi / memakai barang-barang secara berlebihan.

- Sekularisasi, paham yang memisahkan urusan dunia dengan urusan agama.

- Hedonisme, paham yang menganggap hidup bertujuan untuk mencari kebahagiaan sebanyak munkin dan menghindari perasangka-perasangka yang menyakitkan.




Bagaimana cara mengatasi dampak negatif dari perubahan Sosial dan budaya terhadap masyarakat?


jati harus berbasis kepada budaya dan kepribadian bangsa

jati diri yang telah tersusun harus harus berbasis kepada budaya dan kepribadian Indonesia, antara lain:

(1) religius, 

(2) humanis, 

(3) naturalis, 

(4) terbuka, 

(5) demokratis, 

(6) integrasi, 

(7) nasionalisme dan patriotisme, 

(8) berkomitmen terhadap kebenaran, 

(9) jujur dan adil, 

(10) profesional, 

(11) ber-iptek, 

(12)mandiri, 

(13) etis dan moralis, 

(14) kepatuhan kepada hukum, 

(15) berjiwa kemasyarakatan, 

(16) berjiwa kultural, dan 

(17) berjiwa seni dan estetika.


2. Memiliki loyalitas terhadap NKRI

 Hubungan antar suku bangsa Indonesia belum harmonis karena banyak suku bangsa yang masih menyatakan adanya dominasi suku-suku besar yang lebih kuat sehingga suku-suku yang lemah merasa dijajah oleh bangsa sendiri. Di samping itu globalisasi dan keterbukaan saat ini telah memperkuat paham etnosentrisme dan primordialisme sehungga beberapa suku bangsa Indonesia ingin mendirikan negara merdeka baru. Tentu keinginan demikian akan mengancam eksistensi NKRI dan pada akhirnya akan melahirkan konflik sosial dengan kekerasan. Maka diharapkan semua suku bangsa masih memiliki loyalitas terhadap NKRI yang telah menjadi ikrar dari pendiri negara RI pada tanggal 17 Agustus 1945.


3. Pembudayaan jati diri melalui sosialisasi dan internalisasi yang berkelanjutan

Bangsa kita tidak berjati diri keras atau barbar, tetapi berjati diri halus, terbuka dan toleransi, serta selalu menjauhkan diri dari kekerasan. Oleh karena itu, perlu dilakukan pembudayaan jati diri melalui sosialisasi dan internalisasi yang berkelanjutan melalui tempat, seperti: lembaga keluarga, lembaga pendidikan, swata, maupun pemerintah, organisasi sosial, terutama organisasi politik, penyelenggara negara, baik sipil maupun militer, asosiasi sosial ekonomi, media massa, tokoh masyarakat, budaya dan agama, dan individu atau warga negara dimanapun berada sangat perlu dilakukan.


4. Memiliki konmitmen tinggi untuk pelestarian unsur dan nilai sosial

 Kita harus menyadari bahwa setiap masyarakat akan menghadapi masalah perubahan sosial yang selalu terjadi sebagai dampak dari proses-proses sosial, seperti modernisasi dan industrialisasi. Sebagaimana dikatakan oleh ahli ilmu sosial Anthony Giddens, bahwa dampak modernisasi itu ada yang positif dan ada yang negatif. Memang modernisasi itu membawa perubahan-perubahan menuju suatu kemajuan sekaligus juga dapat membawa perubahan-perubahan yang bersifat negatif, seperti runtuhnya institusi sosial dan pudarnya budaya lokal. Tradisi dan budaya lokal dapat hilang secara perlahan-lahan karena ditinggalkan oleh masyarakatnya sediri. Perubahan sosial telah menimbulkan dampak pada pola-pola hubungan sosial antar warga masyarakat, dan pola-pola perilaku gaya hidup (life style). Sebagaimana kita ketahui bahwa gaya hidup bebas atau liberal telah berkembang dalam masyarakat sehingga sangat mempengaruhi jati diri manusia bangsa dan negara.