Adinegoro, Sang Jurnalis Legendaris

Bagi kaum jurnalis Indonesia, nama Adinegoro tak asing lagi. Nama ini dijadikan sebuah penghargaan yang sangat prestisius bagi kredibilitas wartawan di Indonesia.

Lalu, siapakah Adinegoro tersebut? Mengapa namanya diabadikan menjadi sebuah penghargaan tertinggi bagi jurnalis oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) tersebut?

Percaya atau tidak, nama Adinegoro sebenarnya adalah nama samaran, maksudnya nama yang dipakai dalam penulisan artikel di dunia pers berbeda dengan nama pemberian orang tuanya. Setiap tulisan hasil karyanya, selalu menggunakan nama Adinegoro, baik untuk esai maupun ilmiah. Akhirnya nama itulah yang menjadi terkenal.

Nama asli pria legendaris ini adalah Djamalludin dengan gelar Datuk Maradjo Sultan. Dari nama aslinya ini pun kita bisa langsung menebak bahwa beliau lahir di tanah Minang, Sumatera Barat, tepatnya di tahun 1904.

Kepiawaiannnya menulis sudah dimilikinya sejak duduk di bangku STOVIA. Namun, ada larangan untuk menulis di media massa saat ia menjadi siswa disana. Untuk itulah ia menggunakan nama samaran, agar hasrat mengeluarkan bakatnya tersebut bisa tetap tersalurkan. Ia pun secara rutin menulis di majalah Cahaya Hindia. 

Walaupun STOVIA merupakan sekolah kedokteran, namun keinginannya untuk menulis lebih besar daripada menjadi dokter. Akhirnya ia pun memutuskan untuk keluar dari STOVIA dan dengan berani melanjutkan pendidikannya ke luar negeri. Ia pergi ke negeri Belanda untuk mendalami ilmu jurnalistik, kemudian ia ke Jerman untuk belajar tentang geografi, kartografi, dan geopolitik. 

Selama ia belajar di luar negeri ini, ia tetap rutin menulis. Nama “Adinegoro” tetap terpampang dalam tulisan-tulisan yang diterbitkan oleh Panji Pustaka, Pewarta Deli di Medan, juga Bintang Timoer di Jakarta. Meski ribuan kilometer jauhnya, ia masih tetap peduli untuk menghasilkan karya jurnalistik bagi bangsanya.

Tahun 1931, sepulangnya dari Eropa, Adinegoro pun dielu-elukan karena hanya dialah satu-satunya jurnalis Indonesia yang menimba ilmu jurnalistik secara langsung, di Jerman pula. Ia pun langsung diberikan tempat untuk  duduk menjadi pimpinan redaksi Panji Pustaka di Jakarta selama enam bulan. 

Selanjutnya ia mengemudikan Surat Kabar Pewarta Deli di Medan dari tahun 1932 hingga 1942. Ketika memimpin Pewarta Deli ini, ia menelurkan karya tak hanya tulisan, namun juga peta. Karena ia telah mengenyam pendidikan kartografi, peta ini diterbitkannya di Pewarta Deli pada saat perang dunia II. Terobosan baru ini membuat koran Pewarta Deli semakin dikenal dan laris manis.

Di bawah penjajahan Jepang, Pewarta Deli dan diganti menjadi Sumatera Shimbun. Kemudian pada masa awal kemerdekaan, ia ditunjuk sebagai wakil pemerintahan RI urusan penerangan di Sumatera. Tahun 1947, Adinegoro bersama Soepomo dan H. B. Jassin mendirikan Yayasan Dharma, dengan misi untuk memajukan Indonesia mellaui bidang pers, dengan Majalah Mimbar Indonesia sebagai jagoannya. Ia pun hijrah ke Jakarta.

Hingga akhir hayatnya, Adinegoro mengabdi di Kantor Berita ANTARA. Ia juga berusaha meneruskan ilmu jurnalistiknya ke generasi selanjutnya, dengan mendirikan Perguruan Tinggi Jurnalistik di Jakarta dan ikut membangun Fakultas Publisistik dan Jurnalistik di Universitas Padjajaran, Bandung.

Selain sebagai jurnalis legendaris yang loyalitasnya pada bangsa tak terbantahkan lagi, Adinegoro juga menunjukkan kepiawaiannya dalam membuat peta. Ia membuat atlas Indonesia untuk pertama kalinya. Demi Indonesia, ia membuat peta Indonesia yang bersifat asiasentris, bukan layaknya bagian dari pemerintahan kolonial. Setelah Indonesia merdeka, hasil petanya ini kemudian disempurnakan olehnya hingga terbit Atlas Semesta Dunia pada tahun 1952.

Tak hanya sebagai seorang kartograf, Adinegoro juga dikenal sebagai sastrawan. Dua novelnya yang berjudul Asmara Jaya dan Darah Muda diapresiasi betul oleh para sastrawan kenamaan Indonesia lain sejamannya. 

Pada usia 62 tahun, tepatnya tanggal 8 Januari 1967, Adinegoro pun menghembuskan nafas terakhirnya di Jakarta. Lebih dari setengah masa hidupnya dibaktikan di dunia jurnalistik, untuk itu pada tahun 1974, Pemerintah Indonesia pun menganugerahkan gelar Perintis Pers Indonesia kepadanya.

Di Museum Penerangan, beberapa koleksi pribadi milik Adinegoro dipamerkan. Ada buku catatan harian, tongkat hadiah yang beliau peroleh saat melawat ke luar negeri, paspor dinas, dan piagam penghargaan. Karena sangat besar jasanya pada dunia penerangan di bumi pertiwi ini, Museum Penerangan pun membuatkan patung setengah badan untuk mengedukasi pengunjung agar mengenal sosok jurnalis andal ini. (RB)