Home Berita Satu Hari Berpetualang di Bumi Laskar Pelangi

Tue,26Sep2017

Satu Hari Berpetualang di Bumi Laskar Pelangi

Selasa, 15/08/2017, 12:02 WIB

Film Laskar Pelangi begitu membekas di hati kita. Selain kisahnya yang menjadi inspirasi, lokasi pengambilan gambar film ini juga menjadi magnet tersendiri. Cantik, menyenangkan, dan serasa ikut menjadi bagian Laskar pelangi membuat Belitung menjadi salah satu incaran para traveller.

Perjalanan kami diawali dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Bandara HAS Hanandjoddien di Tanjung Pandan. Pukul 06.30, dengan maskapai Garuda Indonesia Airlines (GIA), pesawat kami tinggal landas menuju Negeri Laskar Pelangi. Ini juga kali pertama kami menaiki pesawat milik GIA yang tipenya ATR 72-600 Explore dengan kapasitas 70 penumpang, yang bentuknya lebih ramping dibandingkan pesawat yang biasanya.

Perjalanan memakan waktu sekitar 1 jam 15 menit. Sebelum landing, dari jendela pesawat terlihat pemandangan yang sangat menakjubkan, yaitu Danau Kaolin, yang merupakan bekas tambang timah. Bentuknya seperti cekungan-cekungan pasir putih banyak yang terisi dengan air berwarna biru menyala dan tosca.

Pesawat akhirnya mendarat pukul 07.45, dan kami langsung bertemu dengan sopir yang akan mengantarkan kami menikmati indahnya Bumi Laskar Pelangi. Biasanya, untuk rental mobil seharian dari bandara seperti ini, tarifnya sekitar Rp 350.000,- hingga Rp 500.000,-.

Masih pagi dan sedikit mengantuk, saat yang tepat untuk mencari sarapan. Kami pun berkesempatan untuk mencicipi Mie khas Belitung, yang ditemani dengan Es Jeruk Kunci, di Warung Mie Atep. Warungnya telihat sederhana, namun isinya dipenuhi oleh wisatawan dari luar kota. Rasa mienya sangat khas, dengan kuah kental dan tidak berasa amis padahal ada udangnya. Yang lebih menarik lagi Jeruk Kunci ini, jeruknya jarang ditemui di daerah lain. Bulat kecil-kecil seukuran Jeruk Nipis tapi ketika diperas rasanya seperti jeruk Medan atau jeruk-jeruk yang ukurannya lebih besar. Segar dan patut untuk dicoba kembali kapan-kapan.

Setelah perut terisi, kami melanjutkan perjalanan ke Belitung Timur, tepatnya di Gantong, karena ingin benar-benar melihat suasana serasa di Film Laskar Pelangi. Setelah menempuh perjalanan di jalanan darat yang lumayan mulus selama sekitar dua jam, sampailah kita di Gantong.

Tujuan pertama kami di Gantong ini adalah ke replika sekolah di Film Laskar Pelangi. Ingat kan Ikal dan teman-temannya sekolah dimana? Iya, di SD Muhammadiyah Gantong. Sekolah aslinya sudah tidak ada, dan sekarang dibuat replikanya yang mirip di atas sebuah bukit berpasir. Replikanya dibuat sangat mirip dengan di film, termasuk dengan kayu besar penahan gedung sekolah yang hampir ambruk itu. Tempat ini ramai sekali dikunjungi wisatawan yang ingin berfoto di depan replika sekolah, atau di dalam gedungnya dan berasa menjadi Ikal dan kawan-kawan yang sedang mengikuti pelajaran.

Perjalanan dilanjutkan ke Museum Kata Andrea Hirata. Di museum ini, kita bisa mengingat kembali adegan-adegan yang menyentuh di film Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi, karena dipajang foto-foto yang besar disana, ditemani dengan lagu-lagu dari soundtrack film tersebut.

 

 

Puas menikmati karya seni dan arsitektural sastra tersebut, perjalanan dilanjutkan untuk menuju ke Manggar. Sebenarnya di dekat situ juga ada Rumah Ahok yang biasa dijadikan tujuan wisata, juga ada rumah adat Belitung namun karena kami sedang berpacu dengan waktu, maka kami tak sempat mampir kesana.

Melewati Manggar, yang seingat saya menjadi tempat sekolah SMA Ikal, kami melihat banyak sekali warung kopi dan para bapaka-bapak yang sedang nongkrong disana. Pantaslah kalau Manggar dijuluki sebagai “Kota 1001 warung kopi”.

Setelah selesai menikmati makan siang dengan hidangan laut setempat, kami pun bertolak untuk kembali ke Kota Tanjung Pandan. Tiba di pusat kota, kami pun segera menuju hotel untuk check-in dan menaruh barang-barang pribadi. Setelah itu lanjut berpetualang ke Pantai Tanjung Tinggi, yang menjadi tempat pengambilan gambar film Laskar Pelangi. Saya ingat sekali adegan Cut Mini memanggil Ikal dan kawan-kawannya dengan sebutan “Laskar Pelangi” saat mereka sedang berada di atas batu-batu yang tertata indah oleh alam di tepi pantai ini.

Berada di pantai ini, sangat puas untuk mengambil gambar dengan berbagai pose, baik sendirian maupun beramai-ramai. Lumayan ramai juga wisatawan yang kesini, sehingga untuk berfoto di spot terbaik di salah satu batu yang terletak paling ujung, mau tak mau harus sabar bergantian.

Sepulang dari menikmati keajaiban ciptaan Tuhan bernama Pantai Tebing Tinggi ini, kami kemudian menyempatkan belanja di Belitung Outlet. Lumayan untuk memborong kaos sebagai oleh-oleh dan juga makanan khas Belitung.

Kemudian, petualangan kami dilanjutkan dengan hunting kuliner. Atas rekomendasi teman, kami pun menjajal tempat unik bernama Rumah Makan Belitong Timpo Duluk. Ketikamasuk, suasana jadulnya terasa sekali. Berbagai ornamen kuno, dari mainan, alat masak, alat tani, bahkan sepeda nangkring ditempel di dinding restoran ini. 

  

Itu baru dekorasinya. Bagaimana dengan menu yang disajikan? Hmm... ternyata semantap dengan ekspektasi. Citarasanya tidak ditemukan di tempat lain, sangat khas masakan lokal. Apalagi ada makanan yang baru saja kami lihat disini, yaitu Berego. Bentuknya seperti kwetiaw tapi lebih lebar dan digulung. Cara makannya dicelupkan ke kuah ikan santan dan sambal

.

Lain lagi sama yang ini. Semacam gulai ikan, tapi rasanya beda, karena segar dan terasa asam. Penyajiannya juga istimewa, menggunakan kelapa muda sebagai mangkoknya, mantap kan?

Setelah kenyang, jika ingin meneruskan wisata kuliner selanjutnya, tak salah jika kaki ini melangkah ke warung kopi. Mencari yang legendaris, akhirnya pilihan jatuh pada Warung Kopi Kong Djie. Sebenarnya cabangnya sudah banyak hingga ke luar kota, tapi kami beruntung bisa mencicipi di pusatnya, bahkan berjumpa dengan pemiliknya yang merupakan generasi kedua sejak warung kopi ini didirikan tahun 1945. Harga kopi disinipun tak mahal, hanya Rp 8 ribu per gelas, dan bungkusan sebagai oleh-oleh ini Rp 30 ribu.Nikmaaat...

Masa-masa berpetualang akhirnya selesai juga. Sampai di hotel, suasana di depannya sangat ramai, karena memang berhadapan langsung dengan Pantai Tanjung Pendam, dimana banyak tempat nongkrong disana. Kami pun beristirahat karena besoknya kami harus mengejar pesawat pagi. Seandainya masih ada waktu satu hari lagi saja, petualangan bisa berlanjut ke pulau-pulau eksotis yang katanya pemandangannya bisa membuat berhenti bernapas saking indahnya. Semoga masih diberi kesempatan di lain kali untuk menginjakkan kaki di Negri Laskar Pelangi ini kapan-kapan. (Ros)