Home Event Muspen REVITALISASI MUSEUM PENERANGAN

Sat,18Nov2017

REVITALISASI MUSEUM PENERANGAN

Sekjen Kominfo, Dirjen IKP, dan Kamuspen sedang menekan tombol sirine,

tanda launching revitalisasi Muspen

 

Dewasa ini, museum-museum baik di Indonesia maupun di dunia telah mengalami perkembangan. Museum tidak lagi ingin disebut sebagai ’gudang’ tempat menyimpan barang-barang antik seperti anggapan masyarakat pada umumnya, tetapi museum berusaha untuk menjadi tempat dimana pengunjung dapat merasakan suasana dan pengalaman yang berbeda, yang hanya akan mereka dapatkan jika mereka berkunjung ke museum. Perubahan ini membuat peran museum berkembang menjadi tempat preservasi, penelitian dan komunikasi, yang tujuannya untuk menyampaikan misi edukasi sekaligus rekreasi kepada masyarakat (Weil, 1990; Hooper-Greenhill, 1994:140).

Perkembangan museum di Indonesia saat ini dapat dikatakan cukup bagus, tetapi tentu memerlukan peningkatan-peningkatan agar Indonesia sebagai bangsa yang menghargai hasil karya pendahulunya dan melestarikan warisan budaya leluhur sehingga museum sebagai fasilitator masyarakat dengan peradaban budaya dapat diwujudkan. Museum juga diharapkan mampu menjadi mediator yang tidak membedakan kebudayaan antar daerah, tetapi tercipta peradaban yang multikultural, yaitu menjadikan perbedaan budaya menjadi suatu warna yang meramaikan khasanah kebudayaan bangsa sebagai identitas bangsa.

Oleh sebab itu, museum bukanlah komoditas privat bagi sebagian orang, tetapi milik masyarakat bersama yang ingin mengetahui dan mendapatkan kepuasan mendalam dan kenikmatan dengan datang ke museum. Museum dapat menjadi media yang efektif untuk menyajikan proses pembangunan dan hasil-hasilnya, sehingga dapat dimengerti oleh masyarakat. Museum membantu mengintegrasikan perubahan dalam masyarakat dan menciptakan keseimbangan dalam peningkatan kesejahteraan hidup masyarakat dan terus melestarikan kepribadian suatu bangsa melalui nilai-nilai dan pola-pola budaya yang terkandung di dalamnya. Di sinilah peran museum yang tidak sekedar sebagai sarana hiburan, tetapi media untuk menanamkan nilai dan semangat yang mengakar sebagai wadah patriotisme dan nasionalisme yang semakin terancam dengan landaan globalisasi.

Museum Penerangan yang merupakan salah satu museum di Indonesia, memiliki visi menjadikan Museum Penerangan sebagai pusat informasi dan edukasi, mengenai benda bersejarah informasi dan komunikasi yang mencerahkan, memberdayakan dan mencerdaskan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia, tentu perlu menyesuaikan dengan perubahan paradigma museum era saat ini. Perubahan tersebut, antara lain membuat misi edukasi yang diemban oleh Museum Penerangan  mengalami pergeseran. Selama ini, peran edukasi Museum Peneranganadalah untuk menyampaikan misi pendidikan mereka kepada generasi muda, namun, dengan perubahan paradigma, maka Museum Peneranganjuga harus dapat menyampaikan misi edukasinya itu kepada semua lapisan masyarakat. Museum Penerangan tidak hanya sekedar menjadi tempat untuk mendidik masyarakat, tetapi menjadi tempat pembelajaran, yang termasuk di dalamnya tempat dimana pengunjung dapat memperoleh pengalaman.

Disamping itu, Museum Penerangan juga tidakboleh menjadi lembaga yang pasif, tetapi sebaliknya Museum Peneranganharusmenjadipeserta aktif dalam pembangunan. Bisa diungkapkan atau menggunakan slogan museum out-reach goal dengan bahasa bahwa apabila publik tidak datang ke museum, maka museumlah yang datang ke publik. Museum harus mampu menghadapi tantangan global dimana kontak antarbudaya tidak dapat dielakkan, termasuk berani menghadapi image museum yang dianggap kunodan antik, kemudian mengubahnya menjadi sesuatu yang menyenangkan. Mengubah image ibarat pepatah Bagai Mengubah Tekuk, yang berarti mengubah kebiasaan tidaklah mudah, tetapi yakinlah bahwa jika itu dilakukan terus menerus akan berhasil ibarat pepatahBelakang Parang pun Kalau Diasah Akan Tajam.

Dengan menyimak perubahan-perubahan paradigma di dunia permuseuman, maka Museum Penerangan sebagai salah satu Unit Pelaksana Teknis Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika, mempunyai tugas melaksanakan pelestarian dan pelayanan kepada masyarakat mengenai benda–benda bernilai sejarah dan ilmiah di bidang informasi,  tingkat pengunjungnya rata-rata per bulan 5.000 orang berdasarkan data  akhir tahun 2013, dan ini jumlah yang sangat signifikan, maka Museum Penerangan melakukan revitalisasi secara komprehensif. Meskipun jumlah pengunjungnya sangat signifikan, Museum Penerangan harus berani mengakui secara jujur masih banyak  kelemahan – kelemahan yang harus dibenahi, selaras dengan perubahan paradigma museum di Indonesia.

Dengan demikian, program prioritas Museum Penerangan di era globalisasi melaksanakan revitalisasi secara komperehensif 2014-2015, dengan mengacu pada konsep new museum, yang menekankan pada tujuan dan prinsip dasar museum yang harus relevan dan berorientasi pada masyarakat, dalam rangka ikut menumbuhkembangkan wawasan kebangsaan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia, menuju masyarakat informasi tahun 2015.

Revitalisasi Museum Penerangan telah dilaunching oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Komunikasi dan Informatika, Suprawoto, pada acara Gelar Seni Budaya Bangsa dalam rangka merayakan HUT Muspen ke-21 dan menyambut Hari Kebangkitan Nasional ke-106, pada tanggal 4 Mei 2014 di Mesum Penerangan Taman Mini Indonesia Indah.

Dirgahayu Muspen ke-21! (A.Dzakky)