Home Rekreasi TMII Anjungan TMII

Tue,26Sep2017

Sumatera Barat

Provinsi Sumatera Barat melalui anjungannya di TMII menampilkan lima bangunan adat secara lengkap: Rumah Gadang, Balairung, Rangkiang dan Surau, keempatnya merupakan rumah adat Minangkabau; serta rumah adat Mentawai.

Selain itu, terdapat bangunan pendukung, yakni rumah untuk kantor, kantin, dan panggung, pertunjukkan (medanan bapeneh) tempat menggelar berbagai seni daerah pada hari Minggu dan hari libur.

Rumah gadang di anjungan ini difungsikan sebagai ruang peragaan dan pameran. Benda-benda yang dipamerkan berupa pelaminan, alat pertanian, alat musik tradisional, pakaian adat tiap kabupaten yang disajikan dengan peraga manekin. Kolong rumah digunakan untuk penjualan berbagai cinderamata hasil kerajinan tangan. Semua bangunan adat memiliki hiasan aneka ragam ukir: ukiran datar, pahat, tembus, dan ukiran bakar; kebayakan motif tumbuhan, bunga, dan satwa dengan warna dominan merah, kuning, hitam, dan biru.

Anjungan Sumatera Barat memiliki sanggar tari untuk memnerikan pendidikan dan pelatihan terutama tari dan musik tambur. Pada hari-hari tertentu disajikan upacara adat, juga seni drama randai yang tersohor itu. Di sini tersedia juga kantin nasi padang yang menyajikan menu istimewa khas Sumatera Barat yang semuanya lezat dan mengundang selera.

Daerah Istimewa Yogyakarta

Anjungan Daerah Istimewa Yogyakarta di TMII menampilkan model “Rumah Adat Mataram” sebagai bangunan induknya. Pada dasarnya, rumah adat ini dibagi menjadi tiga bagian dan diantaranya adalah bagian depan yang disebut sebagai Pendopo Agung. Difungsikan sebagai tempat menerima tamu dan melangsungkan pementasan kesenian. Pendopo demikian ini di Keraton Yogyakarta disebut dengan nama “Bangsal Kencono”.

Di anjungan Yogyakarta, pendopo agung ini berupa bangunan tanpa dinding dengan 4 Soko Guru (tiang pokok) yang didukung oleh tiang-tiang pembantu di seputarnya. Semua tiang tersebut terbuat dari kayu berukir, dengan corak ragam hias yang berasal dari alirang Hindu, Budha dan Islam. Seperangkat Gamelan Jawa yang digelar, yaitu Kyai Shanti Mulyo (Laras Pelog), dan Kyai Rajah (Laras Slendro) nampak menghiasi pendopo agung yang megah.

Bagian tengah bangunan disebut Pringgitan. Seperti namanya, yang berasal dari kata ringgit yang artinya wayang kulit, maka di tempat inilah pertunjukan wayang kulit biasa dilaksanakan. Jenis kesenian, yang oleh masyarakat Jawa diakui sebagai kesenian “Adi Luhung” ini, peminatnya cukup besar walaupun waktu pementasannya yang sampai semalam suntuk. Diantara pendopo agung dan Pringgitan, terdapat ruangan yang cukup luas, berupa lantai dengan posisi yang agak rendah.

Ruangan ini dinamakan Longkangan, dan berfungsi sebagai tempat latihan kesenian, yang pada gilirannya akan ditampilkan di Pendopo Agung. Pada hari-hari tertentu, anjungan Yogyakarta memang menampilkan kegiatan latihan kesenian. 

Nanggroe Aceh Darussalam

Wajah budaya masyarakat Aceh digambarkan melalui anjungan Aceh di Taman Mini “Indonesia Indah” dengan dua model rumah adat sebagai bangunan induknya. Salah satu bangunan tersebut merupakan bangunan bersejarah, dikarenakan bangunan tersebut merupakan rumah asli Cut Mutiah yang sengaja dipindah ke TMII dari tempat asalnya.rumah pahlawan wanita itu kini telah berusia 150 tahun lebih, tetapi masih nampak kokoh.

Rumah dengan 16 tiang penyangga ini memiliki ukiran pada bagian dindingnya yang terbuat dari kayu. Hal unik yang dimiliki oleh rumah ini adalah pada bagian pintu masuknya yang terletak di lantai rumah dengan daun pintu mengarah ke dalam, sehingga menyulitkan orang untuk masuk ke dalam rumah jika tidak menggunakan tangga.

Hal ini memang sengaja dengan tujuan keamanan. Pada dasarnya, rumah adat terbagi menjadi 3 ruangan, yaitu Seramo Keue (serambi depan), Jureu (ruang tengah), dan Seramo Likot (serambi belakang). Masing-masing ruangan tersebut memamerkan budaya adat Aceh dari 8 Kabupaten, jenis-jenis senjata, serta hasil kerajinan “tempat duduk pengantin” dengan hiasan sulaman khas Aceh.

Tempat tidur pengantin dengan 7 lapis seprei dan 7 tutup kelambu juga dapat ditemui disana. Pada bagian lain, foto-foto dokumentasi perjuangan rakyat Aceh, termasuk gambar para pahlawan dan musuh-musuhnya dapat disaksikan. Selain rumah adat tadi, ada dua bangunan lainnya, yaitu Kantor Anjungan dan sebuah bangunan model “Meunasah” yang terletak di dekatnya.