BELAJAR DARI "PRINSIP-PRINSIP KEBENARAN JURNALISTIK"

blog-details

BELAJAR DARI "PRINSIP-PRINSIP KEBENARAN JURNALISTIK"

(Disampaikan pada Sharing Session "Museum dan Komunitas", di Rangkaian " 3 Dekade Muspen“, TMII, Jakarta, 29 April 2023)

 

Saya memaknai pentingnya "museum" sebagaimana memaknai pentingnya  "perpustakaan" dan "kearsipan". Ketiganya bisa menjadi alat bantu menavigasi pemikiran dan pemahaman tentang hari ini dan masa depan.

Karena, sebagaimana kita ketahui bersama, menurut Peraturan Pemerintah No. 66/2015 tentang Museum, bahwasanya museum adalah lembaga yang berfungsi melindungi, mengembangkan, memanfaatkan koleksi, dan mengomunikasikannya kepada masyarakat. Dan, definisi museum berdasarkan konferensi umum ICOM (International Council Of Museums) yang ke-22 di Wina, Austria, pada 24 Agustus 2007 menyebutkan, museum adalah lembaga yang bersifat tetap, tidak mencari keuntungan, melayani masyarakat dan perkembangannya, terbuka untuk umum, yang mengumpulkan, merawat, meneliti, mengomunikasikan, dan memamerkan warisan budaya dan lingkungannya yang bersifat kebendaan dan tak benda untuk tujuan pengkajian, pendidikan, dan kesenangan.

Sebagai pegiat literasi dan juga (mantan) jurnalis, saya kemudian mengaitkannya (atau: menyetarakannya) dengan tugas mulia jurnalis sekaligus prinsip-prinsip jurnalistik, karena keempatnya -- jurnalistik (institusi pers), perpustakaan, museum, kearsipan -- memiliki kesamaan fungsi, khususnya fungsi "mengomunikasikan", selain fungsi mengumpulkan, meneliti dan mengkurasi, yang teramat penting di era banjir besar informasi masa kini, dengan begitu melesatnya perkembangan digitalisasi, khususnya media digital.

*

NEIL Gaiman, dkk, dalam bukunya, “Kenapa Masa Depan Kita Bergantung pada Perpustakaan, Membaca dan Melamun”, yang diterjemahkan Ageng Indra, dan terbit 2022, mengutip Eric Schmidt (Google), menuliskan: “Setiap dua hari umat manusia menciptakan informasi sebanyak yang kita buat dari awal peradaban hingga 2003. Itu sekira lima exobyte data sehari…”

Tsunami informasi sungguh menderas dalam kehidupan kita, sehingga tak sedikit orang yang gagal membedakan mana fakta mana fiksi. Mana kenyataan, mana opini. Kegagalan yang bisa menimbulkan kegaduhan dan berimbas pada realita sosial. Betapa tidak. Apa jadinya kalau banyak dari kita menerima fakta sebagai fiksi dan sebaliknya menerima fiksi sebagai fakta? Meyakini opini identik dengan kenyataan?

Lalu, siapa yang bisa menjadi penjernih, pencerah, pemerkaya wawasan, pemberdaya kepada kita agar tidak tergulung, terhempas dan tenggelam dalam gelombang tsunami informasi yang maha dahsyat itu?

Saya meyakini, media dan jurnalis dengan produk jurnalistiknya adalah salah satu ujung tombak dalam menghadapi hal itu, bersama dengan para pegiat taman baca, pengelola perpustakaan (:pustakawan), kearsipan (:arsiparis) dan pengelola koleksi atau kurator museum. Dengan satu penekanan utama: media dan jurnalis yang  selalu mematuhi prinsip-prinsip di dalam (karya) jurnalistik.

Jurnalis yang sedari belum menulis judul dan membuat kail, pembuka alur cerita, penarik minat pembaca, penghentak perhatian pembaca yang kita kenal sebagai lead, pun sudah mengalir di darahnya, berdenyut di jantungnya, bergolak di isi kepalanya, bahwa kewajiban pertama jurnalisme adalah pada kebenaran.

Ada dua hal dalam menulis yang harus selalu diingat, cari lead yang bagus dan hindari kata-kata klise, jurnalis-jurnalis senior selalu mengingatkan itu, dan di atas segalanya adalah kebenaran!

Umbar keingintahuanmu untuk menemukan kebenaran itu. Dan jangan sampai kebenaran itu tumbang hanya karena mengutamakan kecepatan tinimbang ketepatan, yang kerap jadi godaan terbesar media online. Disiplin verifikasi, karena jurnalisme adalah verifikasi, yang tentunya membutuhkan waktu, tidak pernah boleh dikorbankan.

Memang, jurnalisme bukan mengejar kebenaran dalam pengertian yang mutlak, absolut dan filosofis. Tetapi bisa dan harus mengejar kebenaran dalam pengertian yang praktis.

Journalistic truth, kebenaran jurnalistik adalah satu proses yang dijalankan dengan disiplin profesional dalam pengumpulan dan verifikasi fakta. Ingat, inti jurnalisme adalah verifikasi! Memverifikasi semua informasi. Mencari dan menemukan sejumlah saksi, menyingkap sebanyak mungkin sumber, atau bertanya kepada berbagai pihak (tak cuma satu pihak, karena ini bukan "pertunjukan kehumasan”) untuk mendapatkan komentar dan jawaban. Inilah yang membedakan jurnalisme dengan bentuk-bentuk komunikasi yang lain seperti propaganda, fiksi atau hiburan. Apalagi provokasi dan manipulasi!

Berusaha menyampaikan kabar dalam sebuah laporan yang adil dan terpercaya, berlaku untuk saat ini, dan dapat menjadi bahan untuk investigasi lanjutan.

Bersikap transparan mengenai sumber-sumber dan metode yang dipakai, sehingga audiens atau pembaca dapat menilai sendiri informasi yang disajikan. Karena, saya sangat percaya, pembaca di era kapan pun – apalagi saat ini - tak bisa didikte dengan kalimat, "Percaya sama saya (jurnalis, media, penulis)." Tetapi, "Tunjukkan kepada saya bukti-buktinya, biar saya yang menentukan mana yang benar dan mana yang salah."

Meski suara-suara terus berkembang seiring perputaran dunia, akurasi tetap menjadi dasar di mana segala sesuatu dibangun di atasnya: konteks, interpretasi, komentar, kritik, analisis dan debat. Kebenaran pada saatnya akan muncul dari forum tersebut.

Saya diingatkan sedari dulu tentang hal ini, sedari era pager, telepon engkol dan putar, sebelum ada telepon seluler, twitter, instagram, youtube, tik tok oleh banyak jurnalis senior, terutama Luwi Ishwara mengenai "Jurnalisme Dasar" (Penerbit Buku Kompas, 2011).

Juga, dari membaca dua buku Bill Kovach dan Tom Rosenstiel, "The Elements of Journalism"  yang diterjemahkan menjadi "Sembilan Elemen Jurnalisme - Apa yang Seharusnya Diketahui Wartawan dan yang Diharapkan Publik” (Yusi A. Pareanom, dengan editor, Andreas Harsono), dan buku "Blur: How To Know What's True In The Age Of Information Overload", 2010, yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dengan judul "Blur - Bagaimana Mengetahui Kebenaran di Era Banjir Informasi", (Penerjemahannya dikerjakan Yayasan Pantau, hasil kerjasama dengan Dewan Pers. Penerjemahnya, Imam Shofwan dan Arif Gunawan Sulistiyono di bawah supervisi Andreas Harsono dan Budi Setiyono).

Dari Kovach & Rosenstiel kita temukan delapan ukuran dan fungsi penting jurnalisme yangg dibutuhkan saat ini. Sebagai otentitakor/pensahih, penuntun akal, investigator, penyaksi, pemberdaya, agregator/pengepul cerdas, penyedia forum, dan panutan.

Jika hal ini patuh dijalankan, ditanamkan dalam dada setiap pengelola media dan jurnalis, maka jurnalisme tetap tak akan pernah usang, cuma (memang tugasnya) semakin rumit.

*

Kembali kepada pengelola koleksi atau kurator museum dan museum itu sendiri, sebagaimana pengelola taman bacaan/pustakawan dan perpustakaan, serta arsiparis dan institusi kearsipan, bukankah juga menjalankan fungsi-fungsi yang dijalankan para jurnalis -- yang memegang teguh prinsip-prinsip kebenaran jurnalistik? Yakni, (mampu) menjadi otentitakor/pensahih (data, buku, arsip, warisan budaya yang dikoleksi), penuntun akal (dengan rangkaian dan rincian koleksi-koleksinya yang bisa diinfografiskan), investigator (beragam hal yang dikoleksi dan dikomunikasikan), penyaksi, pemberdaya, agregator/pengepul cerdas (dengan keluasan jejaring dan kolaborasinya), penyedia forum sekaligus panutan, yang bisa menjadi navigator cerdas dalam mengarungi gelombang samudera data dan informasi yang sedemikian luas dan besar hempasannya.

Bukan semata jurnalis (: pustakawan, arsiparis, kurator)– yang dalam istilah jurnalis perang dunia kedua dan peliput Perang Korea serta Perang Vietnam 1961, Homer Bigart, sebagai sekadar tukang ketik (clerkism), penelan mentah-mentah sebuah pernyataan, peliput (dan penyaji) "peristiwa semu" (pseudo event).

Sebagai penutup, saya teringat tulisan di sebuah harian, yang mengangkat tema "Kawan dalam Perubahan". Pada Senin, 29 Juni 2020, di halaman pertamanya menampilkan "headline" dengan judul:

"Jurnalisme Sehat Pandu Keputusan Masyarakat"

Lead-nya, berbunyi:

Tren kebutuhan masyarakat atas informasi berkualitas akan bertahan pada masa mendatang. Jurnalisme harus mengedepankan kepentingan publik dan menjalankan disiplin verifikasi.

Sebuah gambaran tekad untuk terus dan tetap menegakkan elemen-elemen "jurnalisme sehat". Dan, menurut saya, semangat senada juga (seharusnya) ada di diri para pegiat taman baca/pustakawan, arsiparis dan kurator museum yang mengikuti  perkembangan zaman yang begitu cepat dan diwarnai dengan tsunami informasi maha dahsyat?

Selamat memasuki usia tiga dekade kepada Keluarga Besar Museum Penerangan. Percayalah, museum itu tidak statis. Tetapi, sangat dinamis, dan karenanya -- sebagaimana jurnalis, pustakawan dan arsiparis -- kalian semua berada di barisan terdepan pemandu keputusan masyarakat, otentitakor/pensahih, penuntun akal, investigator, penyaksi, pemberdaya, agregator/pengepul cerdas, penyedia forum & sekaligus panutan yang luar biasa.

*

 

[[Kang Maman/Maman Suherman

Penulis & Pegiat Literasi]]

1 Comments:

  1. user Bud Fell

    10 AI Widgets that will turn visitor into buyers AI Profits has been released to the public. From today you can access the 10 best AI tools that will help you convert visitors into buyers. Access for free, now from this link, before they delete it, because we know they are going to delete it. http://affiliateautobots.topmarketingcourses.xyz/

Leave A Reply